Kamis, 02 Agustus 2012

Ada apa dibalik bisnis pulsa?

Tak terasa tiga tahun sudah aku menggeluti bisnis pulsa elektrik. Bisnis yang kata orang, untungnya adalah recehan dan banyak orang yang tidak sabar dengan keuntungan yang receh itu sehingga ketika mereka mencobanya dalam hitungan minggu, langsung ditinggalkannya dan mencoba bisnis yang lebih raksasa labanya.

Eitsssss... memang, receh labanya tapi untuk bisnis pulsa elektrik ini, faktor kali adalah jawabannya. Laba per transaksi tinggal dikalikan saja dengan recehan yang kita terima. Mmmm kalo dikantongi, recehan itu jadi berat juga lho, apalagi kalo ditukar dengan uang kertas. Lembaran warna merah pun menjadi penyemangat. Apalagi peluang yang membentang, dimana dalam satu rumah dengan 4 anggota keluarga usia sekolah, rata-rata jumlah ponselnya adalah 8 buah. Dan semua ponsel itu butuh pulsa.

Info bisnis pulsa ada di buku ini
Hal lain yang membuatku betah menekuni bisnis ini meskipun kadang merasa jenuh pula (manusiawi lah...), adalah bisnis ini bisa dijalankan dari manapun. Jadi tidak perlu duduk manis nunggu counter, ga perlu sewa lapak dan memaku diri di kursi (ga betah banget berdiam diri begitu). Karena aku menjalankannnya secara mobile. Cukup handphone dan buku notes untuk mencatat. Customerku tinggal sms, inbox atau telepon untuk meminta pulsa, maka aku kirim pulsa. Bayarnya ? Nantilah kalo kita ketemu atau bisa juga lewat i net banking.

Aku menjalani bisnis ini bersama suamiku. Dia memegang rekan-rekan di kantornya, aku kebagian tetangga di perumahan dan rekan-rekan di kantorku pula. Alhamdulilah, banyak juga kok customerku. Apalagi dengan sistem reseller yang aku terapkan.

Bisnis ini sempat membuatku ingin mundur saja ketika aku lelah mencatat nominal transaksi di buku notesku, tapi aku kembali lagi ke filsafat bisnis pulsa elektrik bahwa :
- bisnis ini mengajarkan ketelitian padaku, salah ketik nomor, pulsa akan nyasar dan ini artinya rugi
- belajar sabar dalam menagih dan menunggu pembayaran jika customer agak-agak beda dibanding yang lain
- mengajarkan aku melihat sifat asli orang dari sisi manajemen keuangan mereka
- mengajarkan aku untuk menghargai uang receh sehingga aku tetap dalam koridor hidup sederhana

So.. bisnis pulsa elekrik, why not?


PUTRI CACAR AIR


Cerita PUTRI CACAR AIR... cerita yang terinspirasi ketika aku dan kedua buah hatiku kompak terkena cacar air, 2 tahun yang lalu. Sungguh tidak nyaman, menjauh dari kehidupan sosial, menyembuhkan diri dan berharap mereka tidak terkena cacar air.

Duh, wajah yang semula berseri mendadak pebuh bintil berisi air. Rasa clekit-clekit juga mendera di seluruh tubuh. Rasa inilah yang ingin kubagi dalam sebuah cerita inspiratif. 

PUTRI CACAR AIR merupaka sebuag cerita yang aku tulis ketika aku getol-getolnya mengikuti audisi menulis di Facebook. Menjajal kesaktian dan pembuktian kemampuan menulis. Menang audisi ini membuatku memiliki amunisi lebih dan keyakinan bahwa menulis ternyata tidaklah sesulit yang ada dalam bayangan. Hanya tinggal menuli dan menulis.. tidak lupa mengevaluasi tulisan kita.

Alhamdulilah, sebulan setelah launching, buku manis ini menduduki buku laris di Gramedia Supermall Karawaci. Tangerang.

Semoga dengan semakin tersebar ke seluruh Indonesia, akan semakin menginspirasi.

Harga: Rp.55.000
Penerbit : Gramedia

Buku Bisnis by Ari Kurnia

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku merasa telah menemukan sebuah profesi yang sesuai dengan passion. Menjadi penulis. Tiga buku bisnis adalah debutku yang kutulis dengan memberi nyawa pada masing-masing buku.

Buku Bisnis Rumahan untuk Para Ibu.
Sebuah buku berisi pengalaman pribadiku dalam memulai bisnis rumahan, memulainya dengan membawa dua buah hatiku menyusuri panasnya jalanan di Tangerang dan dinginnya guyuran hujan. Demi satu kata, menjadi lebih bermakna. Hambatan dalam berbisnis yang kerap menghampiri para ibu dalam memulai bisnisnya, bagaimana menjalankan bisnis dan beberapa pilihan dalam bisnis rumahan disajikan dalam bahasa sederhana dan mudah dicerna.
Harga Rp.38.000'
Penerbut : Gramedia

Buku Franchise 5-10 jutaan, Prospek dan Menguntungkan.
Sebuah buku yang memaparkan apa itu bisnis franchise. Memandangnya secara seimbang dan memberi pemahaman yang mendalam.Tersedia pilihan franchise dengan budget 5-10 juta. Nilai yang masih terjangkau.
Harga 37.500
Penerbit : Laskar Aksara

Buku Bisnis Untung dan Berkah untuk Anak Sekolah
Sebuah panduan bisnis untuk anak sekolah. Bagaimana memulai bisnis tanpa harus melupakan prestasi akademik. Dan tercipta karakter diri yang tangguh. Buku ini menggunakan bahasa sederhana yang tidak menggurui, tata letak dan huruf yang digunakan juga sangat nyaman dilihat. Sehingga membacanya akan membuat betah.
Harga Rp.48.000
Penerbit : Kalil (imprint Gramedia)

Accesories class

Belajar adalah nafas kehidupan. Tanpa belajar, kita akan ketinggalan zaman dan seolah kekuatan akan meredup. Hijab and accesories class, 17 Juni 2012 di Bintaro adalah salah satu cara untuk belajar bersama. Bersama Ari Kunia dan Ocha Daud dalam wadah Ibu-Ibu Doyan Nulis, mengadakan pelatihan dalam membuat aksesories jilbab (dari bead dan kain perca), juga tutorial hijab.

Pelatihan bersifat kekeluargaan dan dilanjutkan dalam sebuah grup di facebook yang akan saling mensupport satu sama lain.

Kisah Mompreneur

Seorang ibu dengan dua orang anak, balita dan TK. Menerjang derasnya hujan menembus jalan yang banjir. Dengan harapan, menemukan barang dagangannya yang terjatuh... 
Bagaimana kisah selanjutnya dari mompreneur tersebut? Bagaimana pula reaksi buah hatinya melihat ibunya yang kebingungan? Berjuang memulai bisnis rumahannya sambil mengasuh buah hati... Jawabannya hanya ada di buku CURHAT BISNIS

Rabu, 01 Agustus 2012

BISNIS UNTUK ANAK

BISNIS UNTUNG DAN BERKAH UNTUK ANAK SEKOLAH

Mengajarkan anak untuk berbisnis bukan semata mengajarkan anak untuk menghitung "duit". Namun mengenalkan cara berinteraksi sosial, memegang prinsip berbisnis, menjawab tantangan dan pada akhirnya akan terbentuk sebuah karakter yang kuat, tangguh dan mendekati kepribadian Rasulullah SAW. 

Begitu banyak teori di bangku sekolah, berbisnis pada hakikatnya merupakan praktek dari banyaknya teori di bangku sekolah. Bagaimana cara menjankannya agar tetap seimbang antara prestasi akademik dan bisnis. Yuk, kita simak dalam buku sederhana namun memikat ini.

Harga Rp 48.000
Penerbit Kalil (imprint Gramedia)
Penulis Ari Kurnia



Jumat, 02 Maret 2012

DIRI dalam MENULIS



Menulis adalah sesuatu yang mudah tapi susah. Nah lho.. gimana nih? Mudah bagi yang telah mengetahui caranya. Namun susah bagi yang belum ketemu kuncinya. Menulis juga berati mengapresiasikan diri.

Obrolan ditemani kopi hangat bersama seorang karib di sore itu, telah membuka mataku tentang pentingnya arti “diri” bagi seseorang yang menulis. Seorang karib yang telah kukenal selama satu tahun, namun adanya persamaan di antara kami, telah membuat perkenalan yang baru setahun itu menjadikan hubungan ini seperti telah mengenal bertahun-tahun. Karibku bercerita tentang beratnya memulai sebuah tulisan. Berkali-kali tangannya mulai menuliskan huruf demi huruf. Namun hanya desahan nafas yang dia dapat. Tak kunjung terwujud, meski hanya selembar pun.

Kutanyakan padanya, apakah ilmu menulisnya kurang? Namun, pertanyaanku disanggahnya.

“Bertumpuk buku teori menulis sudah kubaca. Belajar dari internet juga sudah,” sanggahnya sembari menyeruput cairan berwarna hitam yang mengepulkan asap.

Jadi, apa yang menyebabkan tidak ada daya untuk menulis? Bukankah rekanku ini penikmat novel dan cerpen ketika masa sekolah dulu? At least.. pasti membekas di hatinya gaya tulisan dan kesan yang mendalam dari novel dan cerpen yang dulu pernah dibacanya.

Analisaku, rekanku ini belum menjadi dirinya sendiri. Sikapnya padaku ketika berinteraksi dan bertukar pikiran sebagai seorang sahabat, akan sangat berbeda dengan sikapnya ketika menjadi seorang atasan di kantornya. Penuh wibawa, mengayomi dan terlihat formal. Benar-benar jaim deh kesannya. Tapi memang begitulah, setiap profesi akan menimbulkan konsekuensi dalam bersikap.

Berbeda ketika dia berdialog denganku. Jati dirinya yang sejati terlihat. Semangat muda dan mimpi-mimpi masa lalu jelas terpancar. Terpancar suka cita dari sorot matanya, tawanya lepas. Seolah berkata, Inilah aku yang sebenarnya. Feel free. Dua karakter yang berbeda.

Namun siapa sangka, perbedaan karakter itulah yang membuatnya tidak bisa menggoreskan penanya. Susah untuk memulainya.

“Rasanya aku ingin menyobek topeng yang ada di wajahku,” katanya sembari memainkan sebatang rokok yang tidak berapi.

Hm.. baru aku sadar. Betapa seseorang kadang terjebak dalam karakter yang berat, yang harus dijalani dalam hari-harinya. Dan kadang jiwa dan karakter yang ditakdirkan sejak dalam perut untuk menjadikan dirinya berbeda dengan individu lain, terkalahkan. Terkurung dalam sebuah etika pergaulan yang terkadang kaku. Apalagi jika posisi makin di atas, batasan pun semakin jelas.

Karibku, topeng itu rupanya bebanmu. Aku hanya bisa memberi sedikit solusi baginya, “Jadilah dirimu sendiri ketika kau menggoreskan pena untuk menulis. Dengan menjadi diri sendiri, kau akan mampu manghayati karakter-karakter lain dalam tokoh fiksimu.”

Setelah meneguk kopi terakhir, karibku mengangguk mantap. Terlihat binar di matanya.

Esoknya, sebuah cerpen diemailkan ke alamat emailku. Wow, dia telah berhasil membuat sebuah cerpen. Meskipun masih banyak yang harus diperbaiki, namun dia telah menemukan dirinya sendiri dan langkah awal dalam dunia menulis telah dilakukannya. Tetap semangat sobat, lirihku dalam hati.