Tampilkan postingan dengan label tips menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips menulis. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2016

Storycake for Yourlife : Kekuatan Do’a



          

                Buku antologi yang memuat 25 kisah nyata yang ditulis oleh 24 kontributor dapat dijadikan bacaan bagi jiwa. Buku ini insyaAllah dapat menyadarkan manusia bahwa dalam suka duka kehidupan di dunia, dalam kesedihan dan kegundahan, berbekal untaian doa, ketakwaan, ikhtiar maka Allah akan memberikan jawaban.


                Sebuah jawaban yang terkadang bagi manusia tidak seperti yang dikehendaki namun bagi Allah, itu adalah jawaban yang terbaik bagi manusia. Karena kasih sayang Allah dan Allah Maha Mengetahui kebutuhan hambanya. 


                Kisah yang dipilih dari seleksi yang ketat, dari 65 peserta hingga akhirnya terpilih 24 penulis dan 25 kisah nyata, serta melewati proses editing yang panjang. Dimana proses penerbitan sendiri dari audisi, memakan waktu hampir 3 tahun.


                Kekuatan Doa adalah buku terbitan Gramedia, penerbit nasional yang telah berusia cukup senior. Sehingga perlu banyak sekali saringan kualitas dalam menembusnya. Namun, hasil akhir dan pemilihan timing yang tepat, yaitu saat bulan Ramadhan dalam peluncuran, cukup membuat para kontributor, cukup puas dan terkaget-kaget. Karena memang sebuah kejutan setelah sekian tahun menunggu dalam harap-harap cemas.



                Semoga buku ini dapat menambah inspirasi, membantu memahami kehidupan dan semakin yakin bahwa di atas sana ada Allah yang senantiasa mendengar doa-doa hambanya, menjaganya dan memeliharanya.

Rabu, 12 Maret 2014

Memulai Menulis

Memulai menulis itu sulit kata orang-orang? Benarkah?
Coba beberapa tips ini :
1. menulis saja apa yang ada di benak kita
2. menulis ketika sedang sedih
3. menulis ketika sedang gembira
4. menulis ketika sedang ada tantangan
5. menulis ketika sedang ga ada kegiatan
6. menulis ketika banjir ide
Jadi intinya.. menulislah dahulu apa pun bentuknya. Entah itu dalam selembar kertas, dalam buku atau dalam komputer. Dan yang ringan-ringan aja dulu.. Yang penting fun

Selain itu, baca juga buku dan sumber-sumber lainnya untuk mengarahan karakter tulisan kita.


Minggu, 02 September 2012

BISNIS ANAK Part II



Masih ingat dengan BISNIS ANAK yang pernah saya tulis tempo hari, jika lupa-lupa ingat, yuk tengok kelink berikut ini  http://penamenari-ari.blogspot.com/2012/08/bisnis-anak.html
Melangkah pada penantian  proses pembekuan cairan susu coklat yang dimasukkan ke dalam plastik. Tik.. tok.. tik.. tok.. waktu terasa lama karena Rijal dan Adlan sangat tidak sabar menunggu. Waktu terus bergulir dan akhirnya es lilin telah membeku sempurna dan siap dipasarkan.
Adlan yang nafsu makannya lebih besar dari Rijal sudah tidak sabar untuk mencobanya. Tapi berhubung ini adalah bisnis,  walaupun masih dalam skala kecil, sebisa mungkin didesain seperti bisnis besar. Dengan rasa tega ga tega, aku bilang kepada anak-anak,”Yang ngambil es lilin harus membayar ya.  Baik Bapak, Mama, Mas Rijal ataupun Dik Adlan.”
Dua wajah sumringah pun mendadak manyun. Rona kekecewaan terlihat jelas. Duuhh, rasanya ga tega. Bener deh. Kok kayaknya kejam banget menyuruh anak-anak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang dikeluarkan dari lemari es di rumah sendiri. Tapi aku kuatkan hati. Bismillah, ini adalah caraku mendidik mereka untuk memisahkan antara uang bisnis dan uang pribadi. Dan aku jelaskan hal ini pada mereka.
Beberapa saat mereka terdiam. Mereka pun deal dengan apa yang aku tetapkan. Fiuuhh… Alhamdulillah.
Kini masuk ke pencatatan. Aku siapkan map plastik dengan binder. Aku print laporan keuangan sederhana. Memuat tanggal, keterangan, debet, kredit, saldo. Judulnya adalah LAPORAN KEUANGAN PT RIJAL-ADLAN. Bagi yang ingin tahu bentuk kolomnya, bisa kok dilihat di buku BISNIS UNTUNG DAN BERKAH UNTUK ANAK SEKOLAH, halaman 151. Di Gramedia tersedia melimpah ^^.
Adlan yang baru belajar membaca, membaca judul itu. Dan raut wajah ceria terlihat jelas. Ada kebanggaan di wajah itu. "Wah, Adlan punya PT. Kerennn..” Demikian kira-kira kalau diterjemahkan.
Aku jelaskan bagaimana membuat laporannya, modalnya berapa dan dari mana modal tersebut diperoleh. Cara mencatat penjualan pun aku terangkan. Detail, agar mereka bisa menuliskannya sendiri. Karena berapa pun es lilin yang mereka ambil, harus dicatat untuk menghitung laba ruginya kelak.

Dari paparan diatas, hal apakah yang bisa diambil ? 
-        -   Sebagai pebisnis, di level bisnis apa pun, pemisahan aset pribadi dan aset usaha harus jelas.
-        -  Tetap teguh pada aturan meskipun hati terkadang tidak tega. Hal ini akan membuat kita tetap pada rule yang seharusnya
-          - Pencatatan keuangan dilakukan sedini mungkin untuk mengetahui perkembangan bisnis
-         -  Kejujuran perlu diasah dan dikedepankan. Dalam hal ini saya men-chalenge Rijal dan Adlan dalam menuliskan berapa jumlah es lilin yang mereka konsumsi.

Bersambung…..

Rabu, 29 Agustus 2012

3 M, 3 M dan 3 M


Kepanjangan dari 3 M pertama adalah Menulis, Menulis dan Menulis. Ini adalah salah satu cara untuk menjadi seorang penulis. Yaitu berdisiplin untuk menulis, “memaksa” diri untuk menuangkan ide dan melatih jari serta merangkai kalimat indah dalam sebuah “kertas”.
Semakin banyak berlatih, maka hasil yang dihasilkan semakin bagus. Apalagi jika dalam menulis tersebut sudah merasa terhanyut dan serasa berada dalam “alam lain”. Meskipun kadang sering ditemukan salah ketik, tabrak aja deh, teruskan menulisnya.. yang penting apa yang ada dalam diri dan pikiran semua tercurah dengan tuntas. Sehingga tanpa sadar, berlembar-lembar karya telah dihasilkan. Dan tidak sedikit yang terbengong-bengong ketika membaca ulang dan bergumam,”Emang ini yang menulis aku ya?”
Potensi menulis kerap kali terpendam. Untuk mengeluarkannya memang dengan menulis dan menghayati apa yang ditulisnya. Cara setiap orang berbeda-beda. Ada yang suka menulis di keheningan, mendengarkan music mellow yellow, menulis sambil menyiapkan kopi, snack dan sederet proses kreatif lainnya yang bisa menemani proses menulis itu sendiri.
Fine fine aja sih.. Just do it. Pilih cara yang kau suka. Yang terpenting, cara itu bisa memancing dirimu untuk menulis. Dan pada akhirnya, orang akan menemukan caranya tersendiri untuk meramu cara yang tercepat, ternyaman dan ter.. ter.. lainnya. Dimana cara itu akan muncul dengan sendirinya. Karena berhubungan dengan passion.
Saya sendiri tidak setiap hari menulis. Ada kalanya saya merasa “capek” menulis. Karena kebanyakan karya saya adalah non fiksi (bisnis). Dimana menulisnya tidak menggunakan imajinasi melainkan merangkaikan fakta dan merumuskannya sesuai dengan idealism saya.
Apalagi ketika menyelesaikan satu buku bisnis. Dalam sebulan, rata-rata 120 halaman yang harus saya tulis. Disamping kesibukan saya sebagai seorang ibu yang mengatur rumah tangga tanpa pembantu, mengantar jemput anak sekolah dan les, menjalankan rutinitas bekerja paruh waktu, mengawasi belajar anak-anak, malamnya fokus mengejar deadline dan menjalankan online shop saya.
Rasanya kepala penuh ketika selesai menulis satu buku. Sejenak saya tidak menyentuh netbook saya. Hingga beberapa hari, saya “mengistirahatkan” diri dari menulis. Rileks sejenak, menjalankan hobi, sedikit semau gue dan menjalankan hal-hal yang ringan.
Ketika sudah rileks. Mulailah saya mengisi kembali “bahan bakar” menulis saya yang telah terkuras dan tertuang dalam satu buku. Bagaimana kiat saya? Menjalankan 3 M yang lain. Yaitu MEMBACA, MEMBACA dan MEMBACA. Dan satu lagi 3M saya : MELIHAT, MELIHAT dan MELIHAT.
Mengapa harus Membaca, Membaca dan Membaca? Kalau ini sih, rasanya semua orang sudah tahu ya? Tapi ga mengapa kok kalau diulas lagi. Karena dengan membaca akan mendapat sejuta ilmu. Sejuta kata-kata baru, puluhan juta kalimat indah dan inspirasi baru. Rasanya fresh lagi deh kalau sudah membaca. Serasa memiliki amunisi baru dan siap tempur untuk membuat buku baru lagi.
Membaca lebih bagus kalau bervariasi. Dari aneka jenis bacaan dan aneka jenis media. Karena masing-masing memiliki ciri khas sendiri, sensasi tersendiri dan hal unik sendiri. Terkadang insting sudah jalan sendiri. Pernah saya merasa sangat terdorong untuk membaca dan mengoleksi sebuah tabloid. Hingga beberapa eksemplar saya beli dalam rentang waktu 3 bulan. Ternyata, saya akan menulis buku dengan bahan-bahan yang ada dalam tabloid tersebut.
Bagaimana dengan Melihat, Melihat dan Melihat? Melihat apa yang dimaksud? Melihat disini berarti peka terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita. Mengamatinya, menarik garis besar, memahaminya dan mengambil hikmah dari segala peristiwa yang menarik. Hal ini akan memperkaya tulisan. Tidak monoton dan lebih bernyawa.
Melihat juga membuat hati lebih peka. Lebih manusiawi dan menjadikan ajang untuk introspeksi diri. Melihat adalah cara belajar yang efektif dan gratis. Selama masih dalam kacamata positif thinking dan diniatkan untuk belajar maka akan memperoleh sejuta hikmah dari proses melihat.
Semoga 3M, 3M dan 3M ini bisa membantu dalam membuat sebuah tulisan atau buku. Memperkaya perbendaharaan kata, menambah ilmu dan lebih inspiratif. Dan tentu saja, sesuai dengan style Anda.

Jumat, 02 Maret 2012

DIRI dalam MENULIS



Menulis adalah sesuatu yang mudah tapi susah. Nah lho.. gimana nih? Mudah bagi yang telah mengetahui caranya. Namun susah bagi yang belum ketemu kuncinya. Menulis juga berati mengapresiasikan diri.

Obrolan ditemani kopi hangat bersama seorang karib di sore itu, telah membuka mataku tentang pentingnya arti “diri” bagi seseorang yang menulis. Seorang karib yang telah kukenal selama satu tahun, namun adanya persamaan di antara kami, telah membuat perkenalan yang baru setahun itu menjadikan hubungan ini seperti telah mengenal bertahun-tahun. Karibku bercerita tentang beratnya memulai sebuah tulisan. Berkali-kali tangannya mulai menuliskan huruf demi huruf. Namun hanya desahan nafas yang dia dapat. Tak kunjung terwujud, meski hanya selembar pun.

Kutanyakan padanya, apakah ilmu menulisnya kurang? Namun, pertanyaanku disanggahnya.

“Bertumpuk buku teori menulis sudah kubaca. Belajar dari internet juga sudah,” sanggahnya sembari menyeruput cairan berwarna hitam yang mengepulkan asap.

Jadi, apa yang menyebabkan tidak ada daya untuk menulis? Bukankah rekanku ini penikmat novel dan cerpen ketika masa sekolah dulu? At least.. pasti membekas di hatinya gaya tulisan dan kesan yang mendalam dari novel dan cerpen yang dulu pernah dibacanya.

Analisaku, rekanku ini belum menjadi dirinya sendiri. Sikapnya padaku ketika berinteraksi dan bertukar pikiran sebagai seorang sahabat, akan sangat berbeda dengan sikapnya ketika menjadi seorang atasan di kantornya. Penuh wibawa, mengayomi dan terlihat formal. Benar-benar jaim deh kesannya. Tapi memang begitulah, setiap profesi akan menimbulkan konsekuensi dalam bersikap.

Berbeda ketika dia berdialog denganku. Jati dirinya yang sejati terlihat. Semangat muda dan mimpi-mimpi masa lalu jelas terpancar. Terpancar suka cita dari sorot matanya, tawanya lepas. Seolah berkata, Inilah aku yang sebenarnya. Feel free. Dua karakter yang berbeda.

Namun siapa sangka, perbedaan karakter itulah yang membuatnya tidak bisa menggoreskan penanya. Susah untuk memulainya.

“Rasanya aku ingin menyobek topeng yang ada di wajahku,” katanya sembari memainkan sebatang rokok yang tidak berapi.

Hm.. baru aku sadar. Betapa seseorang kadang terjebak dalam karakter yang berat, yang harus dijalani dalam hari-harinya. Dan kadang jiwa dan karakter yang ditakdirkan sejak dalam perut untuk menjadikan dirinya berbeda dengan individu lain, terkalahkan. Terkurung dalam sebuah etika pergaulan yang terkadang kaku. Apalagi jika posisi makin di atas, batasan pun semakin jelas.

Karibku, topeng itu rupanya bebanmu. Aku hanya bisa memberi sedikit solusi baginya, “Jadilah dirimu sendiri ketika kau menggoreskan pena untuk menulis. Dengan menjadi diri sendiri, kau akan mampu manghayati karakter-karakter lain dalam tokoh fiksimu.”

Setelah meneguk kopi terakhir, karibku mengangguk mantap. Terlihat binar di matanya.

Esoknya, sebuah cerpen diemailkan ke alamat emailku. Wow, dia telah berhasil membuat sebuah cerpen. Meskipun masih banyak yang harus diperbaiki, namun dia telah menemukan dirinya sendiri dan langkah awal dalam dunia menulis telah dilakukannya. Tetap semangat sobat, lirihku dalam hati.