by Enni Kurniasi (peserta kuis IIDN-Buku Inspiratif Indonesia)
“Saya pengen banget punya bisnis, Bun. Tapi anak saya masih kecil-kecil, nggak ada yang jagain. Trus modal juga nggak ada. Gimana ya ?” atau “saya masih kerja, Bun..nggak sempat nawarin barang.”
Demikian rata-rata pernyataan Ibu-ibu muda yang sering saya temui.
Baik saat mendapat tugas piket kantor di distributor ( Tupperware BSD
). Maupun saat piket di
show room ( Tupperware ) di Pondok Indah Mall.
Sebenarnya mereka tertarik untuk berbisnis. Tapi terlalu banyak
halangan yang mereka hitung. Mengapa saya bilang begitu ? yaa..karena
alasan akan selalu ada, sebagai pembenaran atas penundaan kita.
Teman-teman dekat saya dulu, menganggap sebelah mata bisnis yang saya
tekuni. Menurut mereka, nggak ada gunanya gabung di bisnis ini. Toh..
membernya
udah banyak. Yang jualan juga banyak. Bahkan ada yang menjual dengan
diskon gede-gedean. Kamu dapat untung darimana lagi ? dan harus butuh
modal yang
gede.
Saya mulai gabung di bisnis ini, dengan modal yang sangat minim. Hanya cukup buat beli kit bag
doank, seharga
dua ratus lima puluh ribu rupiah. Karena harga produk yang lumayan mahal, membuat beberapa orang berniat mencicil. Ini membuat omset saya bertahan di angka
lima ratus ribu rupiah perbulan, selama setahun !
Tapi ini nggak membuat saya patah semangat. Selalu mencoba mencari
dating buat
party
( janji buat demo produk ). Lama-lama, pelanggan saya bertambah. Ada
beberapa yang hanya mau memakai produknya saja. Ada juga yang berniat
menjadi
member dan mau jualan. Di tahun kedua, saya bisa mengejar karier dan alhamdulilah, akhirnya bisa mencapai
level manager.
Belum lagi urusan
domestic. Suami yang sering dinas luar kota
dan tanpa asissten rumah tangga, membuat saya “terpaksa” mandiri. Mulai
mengantar anak sekolah, mampir ke distributor buat mengambil barang dan
melayani para
consultan. Kemudian menjemput anak sekolah, ke
ekspedisi
buat mengirim barang untuk consultan luar kota. Sorenya mengantar dan
menemani anak mengaji di TPA. Belum lagi membalas telepon, sms dan
WhatsApp dari para consultan hampir sepanjang hari.
Lelah..tentu saja. Alhamdulilah, saya bisa menjalankannya dengan riang. Bisa mengatur
ritme
bisnis dengan urusan anak-anak. Tanpa saya sadari anak-anak juga
terbiasa dengan jadwal saya. Setiap mau pergi sekolah, si kakak selalu
berpesan agar saya tidak lupa membawa baju ganti untuknya. Karena ia
tahu, pulang sekolah, pasti Bunda mampir ke distributor. Ia juga
berpesan, makanan atau cemilan apa yang mau ia makan selama menunggu
saya di distributor.
Teman-teman yang dulu kurang mendukung, sekarang kalau ketemu bilangnya “enak sih, kamu bisa
ngomong, bisa nawarin barang,
nggak malu ketemu orang yang baru kenal,
nggak malu saat ada yang menolak dan lain sebagainya, atau enak sih, kamu punya kendaraan “.
See..di awal mereka mencari-cari kekurangan bisnis ini. Dan
mencoba mempengaruhi saya agar mundur. Sekarang mereka mengatakan betapa
beruntungnya saya. Karena berbagai “keahlian” saya, yang menurut mereka
jatuh dari langit begitu saja.
Noo..kemahiran saya berbicara, mem
prosfek orang dan mendemokan produk itu bukan didapat sekejap mata. Tapi melalui berbagai
training
dan pengalaman. Saya belajar banyak dari pengalaman menjalankan bisnis
ini. Bertemu berbagai karakter orang dan belajar memahami mereka.
Jadi kesuksesan itu tidak didapat sekejap mata. Jika ada teman-teman
yang berniat bisnis dan sudah takut akan merugi, sangat salah. Ketika
mulai berbisnis, kita sudah “siap” untuk rugi, sama seperti kita
“sangat” mengharapkan mendapat untung. Apapun ide bisnis anda, mulailah
sekarang juga. Jangan terlalu banyak alasan. Terlalu banyak alasan
hanya membuat langkah kita menjadi tersendat. Demikian kira-kira yang
ingin disampaikan Mbak
Ari Kurnia dan
https://www.facebook.com/bukuinspiratifindonesia . Salam sukses selalu..:) Enni Kurniasih
sumber :
http://catatanbundaenni.wordpress.com/2013/10/11/mulailah-sekarang-juga/