Tampilkan postingan dengan label ASI eksklusif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASI eksklusif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Desember 2015

Ide Dalam Menulis





                Menemukan sebuah ide dalam menulis merupakan hal yang unik. Ada yang bilang mudah, ada yang bilang susah bahkan ada yang masih bingung darimana datangnya ide. Padahal ide itu melimpah ruah. Apalagi bagi Anda yang telah memiliki usia diatas 20 tahun, dimana telah mengalami masa balita, anak-anak, remaja dan dewasa. Banyak peristiwa yang telah Anda lewati. Dan tahukah Anda? Itu bisa menjadi sebuah ide untuk menulis.

            Ingatkah ketika masa remaja, sebagian dari kita, ketika galau, bingung, bersuka ria dan meledakkan perasaan dituangkan melalui buku harian? Mungkin sekarang buku harian tidak begitu popular karena ada berbagai media social yang siap menerima unek-unek yang ditulis. Akan tetapi, saya masih yakin kalau masih ada yang setia menulis buku harian karena lebih privasi dan meninggalkan lembaran-lembaran kertas yang bersejarah.

            Menulis buku harian ibarat menulis sebuah cerita. Tanpa sadar, Anda telah MENULIS. Dan idenya darimana? Dari pengalaman pribadi. Mungkin hanya beberapa alinea sekali menulis, namun jika dikembangkan dan ditambah pemanis ini itu, akan bisa menjadi berlembar-lembar tulisan.

            Apalagi jika Anda memiliki ilmu yang luas, kemampuan analisis, bisa membaca situasi dan suka mengamati lingkungan (dalam arti positif), tentu makin kaya lagi ide yang bisa Anda kembangkan. 

            Contohnya ketika Anda berlibur dengan keluarga ke sebuah obyek wisata, Taman Safari misalnya. Anda bisa menuliskan banyak dal dalam peristiwa itu. Dianataranya adalah :
1.      Tips mempersiapkan liburan
2.      Menyiapkan bekal untuk piknik keluarga
3.      Koleksi hewan buas di Taman Safari
4.      Membuat piknik tidak membosankan
5.      Yuk nabung buat liburan
6.      ……
Banyak bukan alternative ide menulis yang bisa dikembangkan???
            Yukkk ah menulis… Menulis itu mudah jika Anda menikmatinya.

Selasa, 28 Agustus 2012

ORANG TUA, PELAJAR KEHIDUPAN


Tak terasa, nyaris sepuluh tahun aku menjadi seorang ibu. Orang tua perempuan kata lainnya. Membesarkan kedua buah hati dengan segenap kemampuan. Awalnya sih banyak hal yang aku tidak tahu tentang membesarkan dan mendidik anak. Maka semenjak hamil anak pertama, buku-buku panduan tentang kehamilan dan merawat bayi dan balita pun aku koleksi.

Dengan perut yang semakin membesar seiring dengan perkembangan janin di dalamnya, aku mulai membuka lembar demi lembar buku tersebut. Hari-hari menunggu kelahiran jabang bayi pun sarat dengan informasi yang aku peroleh dari buku dan televisi (maklumlah.. masa itu internet masih langka dan mahal).

Ternyata oh ternyata.. ilmu saja tidak cukup. Rasa tidak tega dan sayang yang berlebihan pada jabang bayi (apalagi anak pertama) membuatku tidak optimal menjalankan apa yang ditulis di buku. Foto step by step di buku yang kelihatannya mudah, pas dipraktekkan, waduh susahnya setengah mati. Ngaku deh, baru kali itu aku memegang bayi merah. Takut melukai, takut salah dan sejuta takut yang berkumpul di hati telah membelengguku untuk bereksperimen.


Begitu juga ketika memahami memberi ASI ekslusif. Saat itu aku bersikeras memberi ASI eksklusif. Yakin banget kalau memberi ASI itu adalah terbaik dan gampang dilakukan. Ternyata tidaklah sesederhana itu. Untuk menghasilkan ASI yang melimpah dan mencukupi kebutuhan sang bayi, perlu “perjuangan”. Makan yang bergizi, minum banyak air adalah salah satu cara. Karena dulu aku “ngotot” bahwa dengan meminum susu untuk ibu menyusui sudah cukup, alhasil, ASI yang keluar tidak melimpah.

Baru akhir-akhir ini aku tersadar. Bahwa belajar itu tidak hanya dari buku. Tapi harus dipadukan dengan belajar di sekolah kehidupan. Belajar dari pengalaman orang, belajar dari praktek dan belajar dari siapa pun.

Kini aku memiliki dua buah hati. Semuanya laki-laki. Wah, ini tanggung jawab besar. Mereka adalah calon pemimpin masa depan. Aku harus memaksimalkan potensi dan mengarahkan mereka pada fitrahnya.

Zaman anak-anakku telah berbeda dengan zamanku. Tantangan akademik, tantangan lingkungan dan tantangan tehnologi yang sangat berbeda. Sebagai orang tua, aku harus terus belajar. Belajar dari buku, dari suami, dari teman, dari internet, dari lingkungan bahkan dari anak-anakku aku juga bisa belajar.

Kemampuan memprediksi fenomena apa saja yang mungkin terjadi akan menentukan langkah apa yang terbaik bagi anak. Misalnya mengintip pelajaran matematika satu dan dua tingkat di atasnya. Berbincang dengan para ibu yang anaknya sudah lebih besar dari anakku. Cukup memberi wacana akan langkah apa yang harus aku tempuh. Misalnya karena pelajaran matematika sekarang 4 tingkat lebih sulit dari zamanku, dan sangat padatnya muatan yang diberikan pada siswa, maka aku menyiapkan fondasi matematika yang kuat bagi anak-anakku. Sepertinya kejam ya, kok anak TK sudah disuruh les matematika. Tapi ternyata tidak. Dan terbukti, bahwa apa yang aku lakukan telah membuat mereka tersenyum kini.

So… belajar bukan milik anak sekolah. Tapi belajar adalah milik semua orang. Terutama orang tua, sebagai penyelenggara sekolah pertama bagi anak-anak. Zaman terus berjalan bahkan berlari, orang berlomba-lomba meng-up grade diri. Akankah kita hanya berpangku tangan dan bangga dengan selembar ijazah yang pernah kita peroleh????